Minggu, 27 Januari 2013

ALASAN RAKYAT SURIAH MEMBELA DIRI




Jakarta, 16 Rabiul Awal 1434/27 Januari 2013 (PERANG DUNIA XXX) – Ulama Suriah Syeikh Muhammad al-Khattib as-Suri dalam acara penggalangan dana untuk korban konflik Suriah mengungkapkan alasan-alasan rakyat Suriah membela diri, Sabtu malam (26/1) di Tanah Abang, Jakarta Pusat.


“Berawal dari gejolak Tunisia dua tahun lalu yang dimenangkan oleh rakyat. Lalu revolusi beralih ke Mesir dan berhasil, kemudian Libya juga berhasil. Selanjutnya di Suriah sampai detik ini selama 22 bulan,” ungkap Khattib di depan ratusan orang yang hadir dalam acara yang diadakan oleh Fourm Indonesia Peduli Suriah (FIPS) itu.
Khattib menyampaikan bahwa selama 40 tahun kekuasaan Hafez al-Assad (1970 – 2000) yang dilanjutkan oleh puteranya Bashar al-Assad (2000 – sekarang), 20 juta jiwa rakyat Suriah hidup dalam kekerasan, ketertindasan, tekanan, siksaan, ketakutan, dan pembantaian.

“Selama 40 tahun ulama dan penuntut ilmu hidup dalam ketertindasan. Yang paling menjadi target penangkapan dan pembunuhan adalah ulama dan penuntut ilmu. Mereka (rakyat Suriah) diperangi hanya karena mengucapkan ‘rabbunallah’ (Rabb kami adalah Allah). Sampai detik ini sudah 60 ribu yang tewas, data yang lain menyebutkan sudah 100 ribu,” kata Khattib yang merupakan salah satu ulama Suriah yang dilarang masuk ke negaranya.
Pada kesempatan itu, Khattib menceritakan satu pembantaian yang pernah dilakukan oleh Hafez al-Assad (ayah Bashar al-Assad). Suatu hari di kota Homs, 30 ribu ulama dan pemuda dibunuh dalam satu hari dengan kondisi tergantung. Di hari itu juga pembantaian tersebut dibersihkan dan ditutupi hingga sekarang.

“Rakyat Suriah belum pernah mendapat keadilan. Islam dilecehkan, masjid-masjid hanya boleh dibuka setiap waktu shalat,” kata Khattib.

Lebih lanjut pria yang sudah 14 tahun menjelajahi Nusantara itu mengatakan perempuan-perempuan Suriah banyak yang diperkosa kemudian disembelih dan dimutilasi lalu dibuang di jalan.

Hal ini sesuai dengan laporan yang dikeluarkan oleh Internasional Rescue Committee (IRC) dua minggu yang lalu. Di tengah laporan penculikan, pemerkosaan dan penyiksaan yang dilakukan tentara Nusairiyyah Alawiyah pimpinan Assad, pengungsi Suriah mengatakan bahwa mereka melarikan diri dari konflik untuk menghindari serangan seksual, bahkan krisis ini  memaksa banyak perempuan untuk menjual diri demi memberi makan anak-anak mereka.
"Setelah puluhan tahun bekerja di zona perang dan bencana, IRC tahu bahwa perempuan dan anak perempuan mengalami kekerasan fisik dan seksual dalam setiap konflik," kata IRC dalam sebuah laporan di situsnya, Senin 14 Januari.
Tuntutan revolusi Suriah memuncak ketika Hamzah Ali al-Khateeb (bocah 13 tahun) tewas oleh rezim Suriah. 

Khateeb  ditangkap aparat dalam sebuah aksi protes di Jiza, sebuah desa di provinsi yang menentang pemerintahan Assad, Dar'a di Suriah, 29 April 2011 lalu. Selama berbulan-bulan keluarganya menunggu dia pulang, sembari dilanda kecemasan, nasib apa yang akan menimpa puteranya.

Khateeb  akhirnya pulang tetapi sudah tanpa nyawa. Tubuhnya rusak menunjukkan bukti kekejaman yang dialaminya. Terdapat  luka-luka sundutan rokok, terlihat juga dua luka akibat tertembus peluru. Lehernya patah, lututnya lepas dan alat vitalnya dimutilasi. 

 
Ia adalah korban termuda saat itu yang menjadi penindasan kejam tentara Suriah terhadap para demonstran yang mencoba menggulingkan Presiden Bashar al-Assad.

Tak hanya keluarganya yang berduka, masyarakat pun terluka. Tak heran, jika kemudian bocah
itu menjadi simbol kuat revolusi  di Suriah.
Ribuan pengunjuk rasa yang turun ke jalan Kota Damaskus yang sebelumnya dilumuri darah, meneriakkan namanya. Sementara, anak-anak di Aleppo memanjat atap-atap rumah untuk merayakan 'Hari Hamza'.

Tak hanya itu, di Kota Hama, 116 mil dari ibu kota, kerumunan besar demonstran memadati alun-alun utama kota, membawa foto Hamza.

Video kematian Hamza yang menyebar di internet dan kemudian disiarkan di stasiun televisi, Al Jazeera -- membuat kemarahan rakyat Suriah makin bergolak.

Di laman jejaring sosial,  muncul grup 'We are all Hamza Ali al-Khateeb, the Child Martyr' atau 'Kami Semua adalah Hamza Ali al-Khateeb, Bocah yang Menjadi Martir'. 

Radwan Ziade, aktivis hak asasi manusia yang kini hidup dalam pelarian mengatakan pada Washington Post, Hamza adalah simbol Revolusi Suriah. "Kematiannya adalah tanda kekejaman sadistis rezim Assad dan aparatnya," kata dia.

"Kekejaman, penyiksaan, adalah hal yang biasa di Suriah. Ini bukan hal baru atau aneh. Tapi yang membuat Hamza spesial, ia tewas mengenaskan di usia 13 tahun. Ia masih anak-anak
," tambah Ziade.

Syeikh al-Khattib menambahkan, “Pihak penentang Bashar al-Assad  sepakat bertujuan keluar dari rezim untuk kehidupan yang lebih adil. Kami berharap konflik Suriah berakhir dengan kebaikan, kemenangan di pihak rakyat Suriah.” (ABU DZAKIR).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar